Dapat Susu dan Telur dari Memungut Sampah Malam Tahun Baru di tempat Paling Bahagia Sedunia

Saat tanggal 31 Desember tahun 2019, kami memenuhi undangan makan malam bersama di rumah kolega kami. Setelah menyantap makanan yang memenuhi kerinduan masakan tanah air dan beramah tamah kami semua pulang. Saat pulang, kami melewati area terminal pusat transportasi yang tidak jauh dari pusat perayaan tahun baru di wilayah Kammpi. 

Terdapat penutupan jalan saat itu, sehingga kami perlu memutar ke arah Rautatiantori untuk menaiki bus ke arah apartemen karena kereta cepat sudah tidak beroperasi. Saat akan memutar arah, kami menemukan kaleng minuman kosong di kursi taman lalu saya ambil mengingat saya mengumpulkan beberapa untuk ditukar bersamaan dengan yang telah saya kumpulkan di rumah, namun baru beberapa langkah ternyata ada lagi kaleng kosong tergeletak, lalu botol kaca. Nampaknya malam itu memang ramai dan mereka sedang “mode” menikmati tahun baru dan meninggalkan begitu saja bekas konsumsi tidak seperti biasanya. 

Berbekal kantong yang kami bawa, saya pisahkan makanan yang saya bungkus oleh-oleh dari acara tadi dan gunakan kantong lainnya untuk meletakkan sampah yang kami temukan sepanjang perjalanan. Dalam hati saya bertanya-tanya juga bersyukur, “tumben” ini banyak yang membuang sembarangan.

Lalu ada seperti gate terbuka dan suami saya ingin tahu seperti apa dari aspek kreativitas hiburan di sana dengan acara yang diselenggarakan gratis untuk umum, maka kami mencoba menengok ke dalam kerumunan memperhatikan ke arah panggung dan merasakan sensasinya sebentar. Saya sempat berkomentar bahwa acara di Indonesia lebih ramai karena memang perbandingan jumlah penduduknya sangat jauh, satu negara di Finlandia tidak sampai sejumlah penduduk di Jakarta. Sambil mendengar gemuruh suara dan mengencangkan jaket musim dingin, kami fokus menyisir mengambil kaleng-kaleng kosong yang tersebar. Saya tidak sempat mengeluarkan kamera karena udara cukup dingin dan kami memakai sarung tangan.

Setelah kami rasa cukup, kami langsung menuju bawah tanah tempat supermarket S-Market di Rautotiantori melakukan penukaran. Ada antrian yang cukup panjang, saya tukarkan beberapa botol dan kaleng lalu mengambil kupon dari dalam mesin yang dapat dipakai untuk belanja lalu mencuci tangan di wastafel samping mesin. Dari 9 kaleng dengan masing-masing deposit 0.15 sen yang berhasil ditukar, sisanya karena rusak sehingga tidak dapat deposit, kami memperoleh total voucher 1.35 Euro dari setoran sampah ke mesin di S-Market. Berikut gambar kuponnya.

Sayangnya karena sudah mengantuk dan terdapat sedikit kejadian yang membuat kurang nyaman karena ada orang mabuk menghampiri antrian para penukar botol dan kaleng bekas, saya tidak sempat memotretnya. Namun dari situs salah satu supermarket di Finlandia, berikut penampakan mesin pengembalian botol dan kalengnya di K-market (gambar resmi situs K-market).

Beberapa hari kemudian, voucher itu saya pakai untuk belanja dan tukarkan dengan telur dan susu hanya dengan menambah beberapa sen saja. Saya gabungkan dengan voucher yang sebelumnya sudah saya tukarkan di K-Market yang hanya berseberangan namun memiliki harga yang kompetitif sehingga sebagai diaspora saya sangat memperhitungkan kebutuhan kami beli dari mana. Harga telur ayam tanpa kandang per 10 butir saat itu di Finlandia seharga 1.69 Euro di S-Market dan harga susu per liternya yang full fat (biasanya berwarna merah) saat itu seharga 0.75 sen jika beli di S-Market. Harga susu rendah lemak (biasanya berwarna biru tua) harga 1.15 sen di S-Market. Berikut penampakan telur dan susu yang dibeli sebelum dan setelah saya masak menjadi teman makan salad, kopi susu dan bahan pancake.

Sebenarnya, nilai pengembalian sampah yang dikumpulkan itu diperoleh dari nilai deposit kemasan yang dibayarkan setiap kita beli minuman kaleng, botol dan kaca. Namun jika tidak ada yang menukarnya maka siapapun yang memungutnya dalam keadaan bagus maka dapat menukarkan kembali nilai deposit tersebut. 

Begitulah cerita yang dapat saya bagikan saat memungut kaleng dan botol bekas di Helsinki, sistem ini perlu lebih banyak yang mencoba juga oleh Produsen, retail dan pemerintah daerah di Indonesia!


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *