Saya ingin mengajak kamu membayangkan tanpa tutup mata, melainkan tetap untuk membaca tulisan ini.
Dimanapun kamu saat ini tarik nafas dan rasakan kesegaran udara yang masih kamu hirup, satu, dua, tiga kali lalu hitungan kelima muncul serpihan debu di hidung yang tidak membuatmu nyaman, iya debu itu dari jatuhan puing di sebelahmu yang baru saja hancur tapi untungnya telinga kamu masih tertutup dengan earphone yang memutarkan lagu favoritmu dalam playlist dari telepon pintarmu yang masih berisi 78% baterai.
Kemudian kamu membuka mata namun matamu merasa perih, gatal, panas dan penglihatan terasa kabur, rupanya kamu baru saja terkena tembakan gas air mata kawan. Lalu kamu ingin pergi dari tempat itu, hari masih terang. Belum selesai kamu memahami yang terjadi dengan nafas dan matamu, mengapa nafasmu makin sesak? Makin perih dan kamu merasa terbakar, rupanya Iya itu adalah percikan fosfor putih yang mengenaimu, kamu pun berlari menuju tempat yang aman, sensasi fosfor putih itu mungkin kamu rasakan seumur hidup.
Earphone mu terjatuh, kamu kini mendengarkan suara petasan? Suara ribuan petasan? Ah suara keras bergemuruh namun bukan petir? Iya, itu tembakan roket dan rudal yang meluncur. Ke mana kamu bisa berlari mencari teman-teman, saudara, keluarga, tetangga ke mana mereka?. Sebelum berlari, kamu memutuskan untuk menyalakan kamera depan, melihat diri ada apa wajahmu tak lagi segar penuh luka dan kemerahan. Kamu meminta bantuan mengirim pesan, kamu menanyakan kabar orang lain, kamu mengirimkan status, kamu mengupdate media sosial. Sejenak ada beberapa reaksi dari mereka di tempat yang berbeda benua. Namun tiba-tiba sinyal terputus, kamu seperti tidak punya kuota membalas mereka. Apakah iya, kamu merasa telah membeli paket yang masih banyak hingga beberapa hari ke depan, mengapa tidak bisa? Kamu mengecek kembali pengaturan ponselmu, internet mati.
Kamu lari ke sana sini, namun kamu khawatir bangunan itu menimpamu, kamu berjalan melihat sekitar ada yang tertimpa bangunan namun tubuhmu tak berdaya mengangkat mereka sendiri.
Kamu melihat ada yang tersenyum dibalik puing namun sudah tak bernafas lagi, kamu masih mencari tempat yang aman dan bantuan.
Kamu berpikir keras untuk mencari tempat yang ramai. Oh masjid? pasar? Sekolah? Rumah sakit? Di sana mungkin ada yang bisa kamu temui. Namun saat kamu akan melangkah ke masjid kamu tidak bisa menemukannya, tempat biasanya kamu mendengar suara adzan yang tidak jauh dari tempatmu kini raib, hanya potongan kubah masih tersisa dan tembok yang telah hancur, tidak ada shalat berjamaah saat itu.
Kamu beranjak ke pasar, sepi tidak ada orang, tidak ada toko yang buka. Kamu kesulitan menemukan abang-abang pedagang langgananmu, tidak ada tukang cilok, cilor, cimol, tidak ada pedagang sembako, tidak ada tukang sayur, tukang buah, tukang daging warung-warung itu semuanya tertutup puing.
Baiklah kamu berlari menuju ke sekolah, tempat adikmu, keponakanmu,sepupu jauhmu menuntut ilmu. Aduh, mengapa kamu melihat sekolah itu telah libur, kosong tidak seperti biasanya kamu lihat. Namun gedungnya sudah hancur, semua siswa telah lulus menjalani ujian syahid di sekolahnya.
Kamu lanjut berlari, kamu menuju rumah sakit, tempat yang kamu pikir bisa mengobati dan kamu jumpai mobil ambulans untuk mereka yang kamu temui sepanjang jalan tadi. Suara di atas langit masih bergemuruh, warna langit berubah lebih gelap namun kamu masih belum bisa menemukan tempat yang aman.
Kamu mulai merasa lapar dan lelah berlari. Di saku celanamu masih ada dompet, berisi data dirimu yang entah mengapa kamu selalu ingin data dirimu ada di sana. Saat ini Maghrib biasanya ada suara kumandang adzan menggema, namun kali ini tidak terdengar. Kamu lipat kembali dompetmu sambil sedikit menyamping, tidak sengaja kamu melihat tangan yang tersembul keluar dari balik puing itu. Kamu berusaha memegangnya, sudah tidak ada detak nadinya namun yang masih ada adalah namanya terukir di kulit tangannya dengan huruf Hijaiyah, nama seorang anak yang telah mempersiapkan dirinya agar tetap dikenal saat berjumpa dengan Rabb Sang Pencipta.
Kamu ingat kembali ingin menuju Rumah Sakit tempat asalmu, Indonesia. Rumah Sakit yang berdiri hasil patungan dan kerja bersama para profesional yang mau belajar membangun gedung. Barangkali di sana bisa kamu temui harapan. Hari mulai pekat namun tidak ada cahaya. Gelap, kamu haus sekali. Kamu sudah jauh berjalan tadi. Namun tidak aman untuk pergi. Cahaya hanya terlihat dari lemparan rudal dan roket yang masih membuat telinga pengang dan tubuh spontan bergerak ngeri, respon alami.
Perutmu berbunyi, namun tidak ada yang bisa mengisinya, kamu telan ludahmu sendiri membasahi kerongkongan dan menenangkan diri sendiri, kamu terlelap. Beberapa jam berlalu. Kamu terbangun, terkejut atas debuman kencang suara itu mendekat, kamu harus bangun dan berlari lagi. Kamu meraba kantong kiri, ada smartphone yang terhubung denganmu yang telah kamu matikan saat kamu mencari jalan. Kamu mulai merekam dan menggunakan penerang sebisa mungkin, kamu tidak bisa menemukan pedagang online yang dapat mengantarkan makanan pesanan ke hadapanmu. Kamu lupa, jangankan menentukan titik lokasi pengantaran makanan itu, membayangkan dirimu ada di mana pun kamu tidak mampu. Kamu tidak ada di peta kawan, lihat saja, cari saja, tanya saja pada Mbah mesin pencari, tidak akan kamu temukan dirimu dalam peta, tidak ada nama lokasi Palestina di sana, sayang.
Di sekitarmu semakin pekat, kamu tersandung, menginjak reruntuhan yang membuat kakimu perih dan kebas. Kamu tetap maju. Tidak juga kamu temukan suara generator yang membantumu mengisi daya ponsel pintar agar tetap mengarahkanmu menuju RS. Kamu seperti kehilangan arah, sudah berjam-jam berlalu. Lalu bayangan muncul, oh bukan itu bukan tukang warung kopi tempat nongkrong saat malas memasak mie instan. Tidak ada mie instan di sana, membayangkannya saja membuatmu sangat kenyang, kamu suka berimajinasi sekarang. Ada choisam, telur, irisan cabai rawit dan saus sambal kesukaanmu sebagai toping mie instan yang kenyal berkuah itu, ah.. Lagi-lagi suara bising menggelegar, kamu terbangun kembali dari mimpimu.
Tiba-tiba, kamu lalu ingin buang air kecil, baiklah kamu mencari titik yang aman. Kamu mencari pojokan yang sepertinya bukan lintasan manusia dan tempat yang cukup bisa diterima untuk membuang hajat. Tapi tidak ada air untuk bersuci dan membersihkan, bagaimana ini? Kamu mulai mulas, kamu ingin buang air besar pula. Mungkinkan saus dan cabai mie instan tadi membuatmu ingin menunaikan hajat BAB sekarang juga, bagaimana ini? Sekilas kamu bersyukur pernah mengikuti kelas fiqh bersuci dahulu yang mengajarkanmu dengan debu atau batu yang aman untuk bersuci, namun apa daya kamu tunaikan di tempat itu, kamu merasa tidak nyaman dengan dirimu tapi kamu meyakinkan diri bahwa kamu telah memastikan kebersihan diri dan tempat itu setelahnya, dengan sisa baterai yang menerangi membantumu 14% lagi.
Kamu memutuskan beristirahat kembali, perjalanan tidak mudah menuju RS. Seetelah berobat mungkin kamu bisa lebih membantu orang lain juga. Hari sudah terang, kamu melihat ambulans yang nampak akrab logonyandan ingin menumpang. Namun tidak bisa, ambulans itu sudah rusak, tertembak tadi malam? Lalu mengapa orang-orang berlarian menjauhi Rumah Sakit? Samar-samar kamu dengar hanya ada waktu sebentar, kamu lelah namun bingung apa yang bisa kamu bantu. Layakkah kamu mengangkut sesuatu dari Rumah Sakit itu. Oh, kursi roda, mungkin kamu bisa mendorongnya, namun sedikit sekali yang tersisa kamu ikuti arus warga berlari hingga sesak nafasmu yang membawa badanmu kembali tersadar bahwa kamu sedang menatap layar di ponselmu, di tempatmu saat ini. Masihkah kamu bernafsu menghirup kopi cafe berlogo hijau itu di mejamu?

Kemudian kamu bertanya pada dirimu sendiri, sudah pahamkah kamu penderitaan di Palestina?
Dirancang pada Hari Solidaritas Internasional Bersama Masyarakat Palestina, 29 November 2023
Dipublikasikan pada Hari Sukarelawan Internasional, 5 Desember 2023
Leave a Reply